Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla
Pura Pegulingan is built in Caka year 1100 (1178 C) by King Masula Masuli. The location of the temple is in Basangambu Tampak Siring Gianyar regency. This
Located just 10 minutes outside of Ubud in Bali, Goa Gajah is a significant Hindu archaeological site. Goa Gajah is locally known as the Elephant Cave because of
Gunung Kawi Tampaksiring terletak di Banjar Penaka, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Candi Gunung Kawi merupakan situs arkeologi berupa candi yang dipahatkan pada dinding batu di
Tirta Empul is located in the upper course of pakerisan rive, Manukaya Vilage Tampaksiring Sub district Gianyar Regency.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Menginspirasi Masyarakat Global Melalui Pendekatan Budaya dalam The 4th Ubud Royal Weekend 2017

 

Gianyar, 20 Mei 2017 –Industri Pariwisata masih menjadi salah satu sumber utama pendapatan Negara. Untuk itu, sektor ini akan terus menjadi lahan yang paling tepat untuk dikembangkan. Saat ini, Pulau Dewata, Bali tetap menjadi destinasi utama para wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan Nusantara (wisnus).

 

Menurut Mentri Pariwisata (Menpar) RI Arief Yahya, terdapat sebanyak 40% wisman masuk ke Indonesia lewat Bali, sisanya lewat Jakarta 30%, Kepulauan Riau (Kepri) 20%, dan 10% tersebar luas di daerah lain. “ Selain itu, Bali juga istimewa karena segudang reputasi dunia yang dialamatkan padanya. Bali juga contoh destinasi yang paling lengkap 3A-nya. Atraksi, Akses, dan Amenitas, “ ungkap Arief Yahya.

 

Dalam dunia Pariwisata terdapat tiga atraksi utama yang dicari oleh para wisatawan , yakni Culture, nature, dan man-made (artificial). “ Wisata Budaya atau cultural Tourism masih memegang porsi 52% dari aktivitas wisata di dunia. Di Indonesia peran wisata budaya memegang porsi yang lebih tinggi dalam mendatangkan wisatawan mancanegara, yakni sebanyak 60%. Saya yakin dengan angka ini Indonesia dapat bersaing kuat dalam cultural industry, “ ungkap Arief optimis.

 

 

 

 

 

Berdasarkan data tersebut posisi Bali masih sangat kuat dalam menghadirkan cultural tourism di Indonesia. Meskipun dengan kemajuan ekonomi dan berbagai aktivitas modernisasi, wilayah Bali masih tetap menjaga tradisi luhurnya. Dan Ubud merupakan salah satu wilayah yang bersinergi membangun daerahnya sekaligus memperkuat tradisi dan budaya lokalnya.

 

Pada kesempatan ini, dalam rangka untuk memberikan wadah kolaborasi dan interaksi bagi stakeholders local maupun global, MarkpLUS, Inc. Dan keluarga Puri Agung bersama dengan masyarakat Ubud kembali menyelenggarakan The 4th Ubud Royal Weekend. Acara yang sudah diselenggarakan keempat kalinya ini mengangkat tema “ Entrepreneurship, Culture, and Touriwsm”. Keseluruhan tema ini akan dipaparkan secara Komprehensif dalam rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari, 19-21 Mei 2017 di kawasan Museum Puri Lukisan, Ubud, Gianyar, Bali.

Hermawan Kartajaya selaku President International Council for Small Busines (ICSB) Indonesia dan juga Tri-Founder Philip Kotler Center for ASEAN Marketing (PK-CAM) menyambut acara ini dengan antusiasme tinggi. “ Kami berterima kasih kepada keluarga Puri Agung Ubud , Tjokorda Gde Putra Sukawati sebagai penglingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Gde Oka Sukawati yang berperan aktif dalam pengembangan Pariwisata di Indonesia yang juga ketua PHRI (Perhimpunan Hotel Dan Restaurant Indonesia) cabang Bali. Serta, Tjokorda Gde Raka Sukawati sebagai pencetus Museum Marketing 3.0 yang memiliki semangat marketing berbasis pada tradisi dan human spirit. Semangat ini lah yang diambil dari sang ayahanda Tjokorda Gde Agung Sukawati- yang ketiganya telah mempercayakan kolaborasi acara URW ini kepada Markplus, Inc”, ungkap Hermawan saat memberikan sambutan.

 

Hermawan melanjutkan, URW ini sudah yang keempat kalinya dan diharapkan dapat berkontribusi lebih untuk Ubud. Tema tahun ini pun akan membahas mengenai dunia wirausaha (entrepreneurship) yang dikolaborasikan dengan culture dan tourism.

 

Pada kesempatan kali ini, The 4Th Ubud Royal Weekend berkolaborasi dengan Ubud HomeStay Association  untuk mengangkat peranan wisata budaya di desa Ubud. Homestay sendiri merupakan tren yang diangkat dalam URW tahun ini karena kinerjanya mampu menyelaraskan wirausaha berbasis budaya dan pariwisata.

 

Sejumlah Homestay yang berada di kawasan Ubud telah memiliki kualitas pelayanan yang tak kalah bila dibandingkan dengan kualitas service based yang diberikan oleh hotel. Selain itu, para wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman tinggal dan belajar budaya masyarakat Ubud secara langsung. Tidak heran, Ubud merupakan daerah dengan Homestay terbaik di Indonesia.

 

Dalam acara ini juga, turut diresmikan Program Pengembangan Desa Wisata Indonesia yang didukung oleh tiga kementerian, yakni, Kementerian Pariwisata RI, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (DPDTT) RI, serta Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) RI. Ubud dianggap dapat menjadi percontohan yang tepat bagi pengembangan Desa Wisata di Indonesia. Tidak hanya sebagai Destinasi Wisata, ubud telah mampu menyelaraskan wirausaha UKM dan juga mengembangkan desanya sebagai upaya untuk menarik wisatawan.

 

“ Desa Wisata itu bias berfungsi ganda. Bisa sebagai amenitas dengan Homestay, akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata. Juga sebagai atraksi , karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang hommy, kaya dengan sentuhan budaya, dan nuansa kekeluargaan yang belum tentu bias ditemukan di Negara lain, “ ungkap Arief.

 

Menteri DPDTT, Eko Putro Sandjojo mengatakan bahwa selama ini telah banyak dana yang dikerahkan untuk pembangunan Desa. Dan menjadikan wilayah Desa sebagai tempat wisata merupakan salah satu langkah untuk dapat cepat membangun dan memajukan wilayah pedesaan di Indonesia.

 

Tidak ketinggalan, Menteri Koperasi dan UKM RI AAGN Puspayoga juga turut mendukung program menyukseskan Desa Wisata Di Indonesia. Pihaknya ingin melengkapi dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Menurut, UMKM akan bias menjadi klop bila dipadukan dengan Desa Wisata. “ Kita ada program one village, one product. Terbentuknya desa –desa wisata akan sangat membantu proses pemasaran berbagai produk UKM-nya” kata Puspayoga.

 

Selain itu, Puspayoga mengatakan bahwa Kementerian KUKM juga mendorong agar Koperasi di desa aktif dan kreatif dalam pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Selain itu, diharapkan desa-desa ini juga turut mengembangkan program Homestay dan desa wisata. “ Melalui BUMDES, potensi desa wisata dan Homestay sangat bias dipertimbangkan untuk dikelola karena sektor ini cukup menjanjikan “, tukas Puspayoga.

 

 

 

Login to post comments
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.