Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla
Items filtered by date: September 2016
Thursday, 01 September 2016 03:53

Hari Raya Galungan dan Kuningan

Setiap perayaan suci, umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta dengan semua manifestasi-Nya. Banyak cara yang bisa dilakukan, bisa dengan jalan kerja (karma). Ada pula dengan cara beryadnya (bhakti). Bagi para sedharma yang menekuni pengetahuan, maka bisa dilakukan dengan jnana. Sedangkan bagi yang menekuni dengan cara tapa, brata, yoga dan samadhi, maka cara itu adalah dengan melakukan yoga marga.

Jalan manapun yang ditempuh, pada akhirnya sampailah juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu tergantung ketulusan umat Hindu dalam memilih dan menempuh cara yang termulia. Manapun jalan itu, semuanya mulia. Tidak ada jalan atau cacat. Karena dasar untuk menuju-Nya adalah ketulusan, kesucian, keiklasan, serta kepercayaan/keyakinan. Tidak bisa seseorang melarang orang lain untuk memilih cara yang satu ini dan terbaik bagi dirinya, sedangkan bagi orang lain belum mampu melakukan dengan cara itu. Disinilah diperlukan pemahaman mengnai hakikat dari pada hari suci itu. Sekali lagi bahwa hari suci adalah hari terbaik bagi umat untuk mendekatkan diri dan menghubungkan diri dengan Sang Hyang pencipta. Oleh karena Sang Hyang Penciptalah yang paling berkuasa, baik secara sakala dan niskala.

Perayaan Galungan dan Kuningan misalnya, bahwa umat Hindu dalam melaksanakannya tentu selain dengan dasar kesucian, ketulusan, keiklasan, kepercayaan sebagaimana disebut di atas tadi, maka dalam implementasinya perayaan Galungan & Kuningan itu, tentu juga menyesuaikan dengan kondisi pribadi, kondisi banjar, kondisi desa, kondisi daerah, kondisi wilayah masing-masing. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan konsep desa, kala, patra. 

Inti artinya bagaimanapun terbatasnya fasilitas, sarana, kemampuan, keadaan ekonomi, bahwa aktivitas untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa serta rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak batal. Rasa bhakti itu tetap yang utama. Melakukan bhakti itu yang diperoritaskan. Oleh karena jalan bhakti itulah menuntun umat Hindu menuju kemenangan dan kebenaran yang sejati, yakni dapat mencapai santa jagat hita, yaitu dapat mencapai sukerta, memperoleh rahayu, serta mendapatkan anugrah dirgha ayu dan dirgha janma manusa.

Kesan Galungan, bukanlah untuk berpesta pora. Juga bukan untuk berhura-hura. Jika itu terjadi, maka keliru dalam memaknai Galungan. Pada saat Galungan umat Hindu memiliki kewajiban untuk: a), melakukan kendali diri; b). melakukan penyucian diri; c), melakukan usaha kbajikan; d) melakukan kegiatan mulia (punya karma); e), melakukan amal kebajikan (dhana Punya); f), melakukan pemujaan dan pengastawa/berdoa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; g), melakukan pengorbanan atau persembahan (yajna) yang tulus iklas; h) melakukan sirna krama atau menengok keluarga terdekat (dharma santih); i), melakukan pengampunan (ksamasvamam) terhadap sesama sahabat/keluarga (Pariparam) maupun terhadap semua kehidupan (sarvamprani/ sarva bhuta).

Jika hal-hal di atas bisa diaplikasikan, maka kesan hura-hura, kesan pesta pora, atau kesan mewah-mewahan bisa ditangkis. Karena pada saat Galungan, tujuan utamanya bukan itu. Juga segala perilaku-perilaku buruk (papa karma) sedapatnya harus dikendalikan. Tidak ada saat perayaan Galungan, bahwa umat lupa datang ke, merajan,sanggah, kamulan, taksu, kawitan, khayangan desa, khayangan jagat dan sejenisnya. Melakukan perjalanan suci (yatra) ke tempat-tempat sucilah yang dilakukan pada saat itu. Karena tempat itu adalah tempat suci. Tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada saat Galungan (Budha kliwon Dungulan) umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasi Beliau (Prabhwa Siva), Juga Bhatara-Bhatari, Deva-Devi serta pitara dan pitari yang suci. Karena Beliaulah yang menuntun kita sekalian. Beliau pula memberikan jalan dharma itu. Saat Galungan suguhan sesajen atau upakara sesuai yang telah ditentukan. Persembahan tumpeng, banten kurenan ,punjung, penyeneng, rayunan, gebogan, dan lainnya merupakan wujud rasa bhakti umat Hindu menuju kesempurnaan yang sejati.

Published in News
Page 2 of 2
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.