Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla

Seminar “Mengenal IT Lebih Jauh” diselenggarakan oleh jejaring Kelompok Sadar Wisata Provinsi Bali di Kantor Sekretariat Jejaring Nyuh Kuning pada Jumat, 23 September 2016. Acara dibuka oleh Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali dengan narasumber Bapak Nur Hakim dari Team Ace Net yang dihadiri oleh Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota se-Bali, beberapa pelaku pariwisata dan siswa dari SMK se-Kecamatan Ubud.

Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang beralamat di Banjar Pengaji, Payangan tetap eksis dalam melakukan pagelaran seni budaya dengan merencanakan pementasan yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Selama ini  Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana Sudah melakukan pertunjukan seni dan budaya secara regular dengan menggaet wisatawan dari Prancis. 

Warga Br. Sema Payangan secara turun temurun tetap melaksanakan tradisi Raja Kuning (panjat pohon pinang) yang digelar setiap Umanis Kuningan. Sejak siang hari, Minggu 18 September 2016, warga dan wisatawan sudah memadati area Pura Catur Buana yang dijadikan tempat melaksanakan Raja Kuning. Prosesi ini disakralkan oleh warga Br. Sema dan sampai saat ini masih dilaksanakan terkecuali ada cuntaka (halangan kematian).

 

Pura Hyang Api di Desa Adat (Desa Pakraman) Kelusa adalah salah satu pura kuno di Bali, yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-8 Masehi, pada era Maharsi Markandeya mengembangkan konsep ajaran Agama Siwa (Tripaksashakti) di Bali. Yang mana Para Hyang Api ini berlokasi di kawasan Munduk Gunung Lebah yang merupakan ruto perjalanan suci Dharmayatra dan Tirtayatra Maharsi Markandeya dengan pengiring Wong Aga, seperti dikemukakan dalam Lontar Bhwanatattwa Maharsi Markandeya.

Berdasarkan petikan Prasasti Bali Kuno, bahwa Pura Hyang Api adalah sthana (Parhyangan) Dewa Api (Dewa Agni) atau Dewa Brahma dalam konsep Tattwa Nawadewata yang madruwe kesidian mapaica kawarasan, kalanusansarwa wewalungan adalah merupakan cikal bakal Pura Khayangan Tiga (Pura Desa dengan Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem) sebagai murdhaning dan pramananing desa-desa adat/pakraman di Bali. Dimana pada kawasan Munduk Gunung Lebah tepatnya di Desa Kelusa ini masih ada dua pelebahan pura lagi yang memiliki kaitan dengan Pura Hyang Api, yakni Pura Luhuring Akasa sebagai sthana Dewa Siwa dan Puru Gunung Gempal yang berlokasi di Desa Adat Yeh Tengah sebagai sthana Dewa Wisnu.

Keberadaan Pura Hyang Api sebagai tempat memuja prabhawa Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam kedudukan fungsi sebagai Ista Dewata Dewa Agni juga untuk memohon kewarasan, kelanusan wewalungan (hewan ternak) bagi masyarakat/umat Hindu dari seluruh Kabupaten dan Kota Madya di Bali yang dikenal dengan pujawali atau odalan Aci Keburan, pujawali berlangsung setiap enam bulan sekali yang jatuh pada hari Tumpek Kuningan hingga nyejer sebulan penuh (35 hari) sampai berakhir atau nyineb pada Tumpek Klurut.

 

 

 

Indonesia yang diwakili oleh Ubud berhasil menempati peringkat 10 dalam kategori Top 25 Destinations in the World atau destinasi wisata terbaik di dunia versi TripAdvisor Travellers Choice Awards 2016.

Penghargaan ini diserahkan secara simbolis oleh Martin Verdon-Roe, VP Global Display Sales TripAdVisor kepada Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yang diterima langsung oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat Welcome Reception PATA Travel Mart 2016, di Indonesia Convention Center'(ICE) BSD City pada Rabu, 7 September 2016.

 

 

 

Selain kemacetan, sampah juga merupakan masalah utama yang dihadapi di Kabupaten Gianyar dalam rangka pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan efek negative bagi lingkungan dan perkembangan pariwisata sehingga hal ini harus mendapat perhatian yang serius dari masyarakat, swasta dan Pemerintah. Sinergitas antar semua pihak diharapkan dapat menanggulangi permasalahan sampah ini sehingga kedepannya dapat tercipta suasana bersih dan nyaman.

Setiap perayaan suci, umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta dengan semua manifestasi-Nya. Banyak cara yang bisa dilakukan, bisa dengan jalan kerja (karma). Ada pula dengan cara beryadnya (bhakti). Bagi para sedharma yang menekuni pengetahuan, maka bisa dilakukan dengan jnana. Sedangkan bagi yang menekuni dengan cara tapa, brata, yoga dan samadhi, maka cara itu adalah dengan melakukan yoga marga.

Jalan manapun yang ditempuh, pada akhirnya sampailah juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu tergantung ketulusan umat Hindu dalam memilih dan menempuh cara yang termulia. Manapun jalan itu, semuanya mulia. Tidak ada jalan atau cacat. Karena dasar untuk menuju-Nya adalah ketulusan, kesucian, keiklasan, serta kepercayaan/keyakinan. Tidak bisa seseorang melarang orang lain untuk memilih cara yang satu ini dan terbaik bagi dirinya, sedangkan bagi orang lain belum mampu melakukan dengan cara itu. Disinilah diperlukan pemahaman mengnai hakikat dari pada hari suci itu. Sekali lagi bahwa hari suci adalah hari terbaik bagi umat untuk mendekatkan diri dan menghubungkan diri dengan Sang Hyang pencipta. Oleh karena Sang Hyang Penciptalah yang paling berkuasa, baik secara sakala dan niskala.

Perayaan Galungan dan Kuningan misalnya, bahwa umat Hindu dalam melaksanakannya tentu selain dengan dasar kesucian, ketulusan, keiklasan, kepercayaan sebagaimana disebut di atas tadi, maka dalam implementasinya perayaan Galungan & Kuningan itu, tentu juga menyesuaikan dengan kondisi pribadi, kondisi banjar, kondisi desa, kondisi daerah, kondisi wilayah masing-masing. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan konsep desa, kala, patra. 

Inti artinya bagaimanapun terbatasnya fasilitas, sarana, kemampuan, keadaan ekonomi, bahwa aktivitas untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa serta rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak batal. Rasa bhakti itu tetap yang utama. Melakukan bhakti itu yang diperoritaskan. Oleh karena jalan bhakti itulah menuntun umat Hindu menuju kemenangan dan kebenaran yang sejati, yakni dapat mencapai santa jagat hita, yaitu dapat mencapai sukerta, memperoleh rahayu, serta mendapatkan anugrah dirgha ayu dan dirgha janma manusa.

Kesan Galungan, bukanlah untuk berpesta pora. Juga bukan untuk berhura-hura. Jika itu terjadi, maka keliru dalam memaknai Galungan. Pada saat Galungan umat Hindu memiliki kewajiban untuk: a), melakukan kendali diri; b). melakukan penyucian diri; c), melakukan usaha kbajikan; d) melakukan kegiatan mulia (punya karma); e), melakukan amal kebajikan (dhana Punya); f), melakukan pemujaan dan pengastawa/berdoa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; g), melakukan pengorbanan atau persembahan (yajna) yang tulus iklas; h) melakukan sirna krama atau menengok keluarga terdekat (dharma santih); i), melakukan pengampunan (ksamasvamam) terhadap sesama sahabat/keluarga (Pariparam) maupun terhadap semua kehidupan (sarvamprani/ sarva bhuta).

Jika hal-hal di atas bisa diaplikasikan, maka kesan hura-hura, kesan pesta pora, atau kesan mewah-mewahan bisa ditangkis. Karena pada saat Galungan, tujuan utamanya bukan itu. Juga segala perilaku-perilaku buruk (papa karma) sedapatnya harus dikendalikan. Tidak ada saat perayaan Galungan, bahwa umat lupa datang ke, merajan,sanggah, kamulan, taksu, kawitan, khayangan desa, khayangan jagat dan sejenisnya. Melakukan perjalanan suci (yatra) ke tempat-tempat sucilah yang dilakukan pada saat itu. Karena tempat itu adalah tempat suci. Tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada saat Galungan (Budha kliwon Dungulan) umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasi Beliau (Prabhwa Siva), Juga Bhatara-Bhatari, Deva-Devi serta pitara dan pitari yang suci. Karena Beliaulah yang menuntun kita sekalian. Beliau pula memberikan jalan dharma itu. Saat Galungan suguhan sesajen atau upakara sesuai yang telah ditentukan. Persembahan tumpeng, banten kurenan ,punjung, penyeneng, rayunan, gebogan, dan lainnya merupakan wujud rasa bhakti umat Hindu menuju kesempurnaan yang sejati.

Dengan pesatnya perkembangan kepariwisataan di Bali diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Keberadaan Desa Wisata di Bali dikembangkan agar dapat mensejahterakan masyarakat di desa sehingga hasil dari kepariwisataan dapat dinikmati oleh segenap unsur masyarakat. Menyikapi hal tersebut Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar berupaya untuk membangun peran serta masyarakat di Desa untuk lebih terlibat langsung membangun potensi di Desa mereka masing-masing.

Objek wisata Monkey Forest yang juga disebut sebagai Mandala Wisata Wanara Wana merupakan kawasan yang sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Adat Padangtegal. Bahkan, objek wisata ini tak dapat dipisahkan dari Desa Pakraman Padangtegal. Alasan ini muncul dengan adanya hubungan emosional, dimana kawasan objek tersebut merupakan tempat Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Padangtegal yakni Pura Dalem Agung.

The Sacred Monkey Forest Sanctuary (Monkey Forest Ubud) mempunyai misi melestarikan daerah berdasarkan konsep Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana adalah merupakan filsafat dalam ajaran agama Hindu. Substansi ajaran Tri Hita Karana adalah bagaimana membuat orang menjaga hubungan yang harmonis dalam kehidupan ini. Ketiga hubungan terdiri dari hubungan yang harmonis antara manusia dan manusia, manusia dan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan.

Pelaksanaan Tri Hita Karana, selain ritual dilakukan di tempat suci dapat dilihat dalam kegiatan ritual khusus yang berkaitan dengan hewan yang biasanya dilaksanakan pada Tumpek Kandang dan Tumpek Uduh, di mana hewan dan tumbuhan adalah subjek dari ritual.

Berdasarkan konsep Tri Hita Karana, The Sacred Monkey Forest Sanctuary (Monkey Forest Ubud) akan menjadi unggulan dari tujuan wisata internasional untuk menciptakan perdamaian dan harmoni kepada para pengunjung. Serta dapat menjadi jantung kota, konservasi tanaman langka dan tanaman untuk tujuan ritual dan sebagai laboratorium alam bagi lembaga pendidikan.

Kepala Bidang Penyuluhan Pariwisata A.A. Istri Dwi Hari Hidayati menjadi narasumber dengan materi Pengenalan Saka Pariwisata pada acara Raimuna Cabang Gianyar 2016 yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Desa Lodtunduh Ubud pada hari Jumat, 26 Agustus 2016.

berikut sekilas beberapa informasi mengenai Saka Pariwisata :

Penegertian Saka Pariwisata.

Satuan Karya Pramuka Pariwisata Adalah salah satu Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah Pendidikan di bidang Kepariwisataan bagi anggota Pramuka agar mereka dapat membantu, membina dan mengembangkan kegiatan  :

  1. Penyelenggaraan kepariwisataan yang berkelanjutan 
  2. Pengelolaan perjalanan wisata/ pemanduan wisata,
  3. Pemberdayaan masyarakat dalam rangka perwujudan sadar wisata dan aksi Sapta Pesona di sekitar destinasi pariwisata sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat bangsa dan Negara.
Page 5 of 14
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.