Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla

Goa Gajah

March 15, 2017

Located just 10 minutes outside of Ubud in Bali, Goa Gajah is a significant Hindu archaeological site. Goa Gajah is locally known as the Elephant Cave because of its close proximity to the Elephant River. A mysterious cave, relics, and ancient bathing pools set amid green rice paddies and a garden lure tourists from nearby Ubud.

The menacing entrance to Goa Gajah looks like a demonic mouth, suggesting that people are entering an underworld as they venture inside through the darkness. Some claim that the entrance represents the Hindu earth god Bhoma while others say the mouth belongs to the child-eating witch Rangda from Balinese mythology. (For additional context, read our article on Bali's cultureGoa Gajah was listed as a tentative UNESCO World Heritage Site in 1995.

The History of Goa Gajah

Goa Gajah is thought to date back to the 11th century, although relics predating this time were found within proximity of the site. The first mention of Goa Gajah and the Elephant Cave was in the Javanese poem Desawarnana written in 1365.

Despite the ancient significance of the Elephant Cave, the last excavation took place during the 1950s; many sites still remain unexplored. Literal piles of relics with unknown origins have been laid out in a surrounding garden.

The leading theory suggests that Goa Gajah was used as a hermitage or sanctuary by Hindu priests who dug the cave entirely by hand. Although accredited as a sacred Hindu site, a number of relics and the close proximity of a Buddhist temple suggest that the site held special significance to early Buddhists in Bali.

Inside the Elephant Cave

For such a busy tourist attraction, the Elephant Cave itself is actually quite small. As you enter through  the dark, narrow passage, the cave abruptly ends in an intersection.

The left passage contains a small niche with a statue of Ganesh, the Hindu deity reminiscent of an elephant. The right passage holds a small worship area with several stone lingam and yoni in honor of Shiva.

Goa Gajah is nearly surrounded by ancient Hindu temples easily accessible from the main roads. Read about Pura Besakih, Bali's most sacred Hindu temple.

Visiting the Elephant Cave

  • Goa Gajah is open seven days a week from 8 a.m. to 4:30 p.m.
  • The entrance fee to the Elephant Cave is around 60 cents.
  • Proper dress is required; knees must be covered by both men and women. Sarongs are available on loan at the entrance of the site.
  • Goa Gajah is still an active worship site - try not to get in the way of worshippers inside the narrow cave. Do not photograph people during their prostrations.
  • Be prepared to be plunged into near darkness as you enter the cave; there is no artificial lighting.
  • Goa Gajah suffers from a dreadful lack of signs and any explanations in English. Visitors who are serious about exploring Bali's Hindu past should consider venturing to Pura Besakih.

Around Goa Gajah

Other than the religious and archaeological significance, the real draw of Goa Gajah is the beautiful surrounding. The Elephant Cave only takes minutes to explore, however rice paddies, gardens, and stone steps lead to other beautiful settings.

Smart visitors climb the long flight of stairs down into the shady valley where a small waterfall awaits. The remains of a crumbled Buddhist temple rest nearby; ancient stones with carved reliefs lie strewn with boulders in the river as rushing water erases history.

Getting to Goa Gajah

The Elephant Cave is located just 10 minutes southeast of Ubud in Central Bali, Indonesia. Tours that take in Goa Gajah as well as other surrounding temples and sites can be arranged in Ubud. Alternatively, motorbikes can be rented in Ubud for around $5 a day.  Having the freedom of transportation to explore the smaller tourist sites surrounding Ubud is a big plus.

Begin by driving south of Ubud past the monkey sanctuary toward Bedulu, then turn east (left) onto Jalan Raya Goa Gajah. Numerous signs indicate the way to Goa Gajah as well as other attractions.  A trivial fee is charged for parking at the Elephant Cave.

Pura Pegulingan

March 15, 2017

Pura Pegulingan is built in Caka year 1100 (1178 C) by King Masula Masuli. The location of the temple is in Basangambu Tampak Siring Gianyar regency. This temple is a cultural heritage. 

Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar mengadakan sosialisasi tentang Peraturan Bupati Gianyar nomer 127 Tahun 2016 tentang Tatacara penetapan Desa Wisata di Kabupaten Gianyar yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar A.A. Ari Brahmanta, SE didampingi Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata A.A. Istri Dwi Hari Hidayati, S.STP, M.M dan Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Desak Made Utari, SH., M.Si pada Rabu, 8 Maret 2017 yg bertempat di Stage Mandala Wisata Samuan Tiga.

Kegiatan Pemilihan Jegeg Bagus Duta Pariwisata Kabupaten Gianyar Tahun 2017 mengusung tema “Diva Bhawana Duta Pusaka”. Ditahun 2017 Sejebag Gianyar dan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar mengadakan pra-seleksi/roadshow  ke beberapa Sekolah SMA/SMK  se-Kabupaten Gianyar yang dilaksanakan dari tanggal 13 Januari - 11 Februari 2017.

 

Untuk peserta yang lolos pra-seleksi dapat melengkapi administrasi pendaftaran Pemilihan Jegeg Bagus Gianyar Tahun 2017. Bagi Sekolah/Umum lainnya yang berminat untuk mengikuti menjadi peserta seleksi Jegeg Bagus Gianyar tahun 2017 dapat  melakukan pendaftaran ke Dinas Pariwisata Gianyar pada hari kerja yang di buka dari hari Senin – Jumat dari jam 08.00 WITA sampai dengan 14.30 WITA dimana pendafaran dibuka dari tanggal 6 Februari – 3 Maret 2017. Bagi peserta yang sudah mendaftar selanjutnya diberikan pengarahan tentang persiapan pelaksanaan seleksi Pemilihan Jegeg Bagus tahun 2017 pada saat Technical Meeting. 

 

 

 

Pada hari Kamis tanggal 29 Desember 2016 mulai pukul 16.20 wita, bertempat diwantilan Desa Suwat Gianyar berlangsung pembukaan Festival Air Suwat ke-2 dirangkaikan dengan parade budaya Gianyar oleh Kadis Pariwisata Kab. Gianyar A. A. BAGUS ARI BRAHMANTA, SE. Hadir dalam acara tersebut : - Anggota DPRD Gianyar dari Fraksi Demokrat A. A. RAI BAWA HARTAWAN - Camat Gianyar KETUT SUWASTIKA, SSos. - Ketua OJK wilayah timur Bali Nusra Bapak JULMI - Perbekel Suwat NGAKAN MADE ASTAWA, SH - Bendesa Adat Suwat NGAKAN PUTU SUDIBYA, SE - Babinkamtibmas dan Babinsa Suwat. - Para Kelian Dinas, Kelian Adat dan masyarakat se-Desa Suwat sebanyak 1.000 orang. B. Acara diawali dengan penampilan tari penyambutan tari "Panyembrahma" dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia PUTU OKA MAHENDRA pada intinya menyampaikan ucapan terimakasih kepada para undangan dimana festival air suwat ke-2 ini adalah air untuk semua. dalam festival ini diucapkan terimakasih atas suksesnya acara festival ke-2 ini.

Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) akan menjamin kepastian hokum dalam menjalankan usaha pariwisata bagi pengusaha. TDUP juga nantinya dapat menyediakan sumber informasi bagi semua pihak yang berkepentingan mengenai hal-hal yang tercantum dalam Daftar Usaha Pariwisata.

“Dengan adanya TDUP diharapkan mampu meningkatkan daya saing usaha pariwisata,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, Anak Agung Dalem Jagaditha, SH saat Sosialisasi Peraturan Bupati Gianyar No. 83 Tahun 2015, tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Pariwisata yang berlangsung di mandala Wisata Sauman Tiga, Bedulu pada Senin, 28 Nopember 2016. Sosialisasi dihadiri SKPD terkait dan para pengusaha pariwisata.

 

 

 

Gianyar Culinari Exhibition saat acara The Fourth Asian Forum On The Right Of The Child di Desa Batuan dan Batuan Kaler, Jumat 25 Nopember menjadi ajang promosi Jaje (jajan) khas Bali. Pameran yang dilaksanakan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, juga untuk memberdayakan pebisnis jaje Bali khususnya di pedesaan.

Jaje Bali yang ditawarkan meliputi klepon, laklak, bantal, jajan injin, pisang rai, godoh, jaje bendu, jaja lukis dan lainnya. Kebanyakan penganan khas Bali diambil dari resep turun-temurun dari pembuat jaje tradisional Bali. Jaje tersebut umumnya dihidangkan bersama kelapa parut dan kinca (gula merah cair). Beberapa diantaranya selain untuk pengannan juga untuk sarana persembahyangan. Semuannya mudah dibuat menggunakan bahan-bahan yang sederhana. Selain mudah rasanya juga lezat dan bercita rasa tinggi. Tidak heran beberapa diantaranya kerap tampil diatas meja prasmanan di restoran-restor atau hotel kelas atas.

Guna mempromosikan Gianyar sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya dengan mengedepankan kearifan lokal, Ubud Hotel Association mengadakan 3rd UHA Table Top yang diikuti oleh 30 buyers dari travel agent domestic dan internasional dari Singapura, Malaysia, Vietnam, India dan Australia di The Royal pitamaha, Convetion Hall Ubud pada Jumat, 25 Nopember 2016.

UHA Table Top yang berlangsung untuk keriga kalinya di Kabupaten Gianyar merupakan ajang promosi dan kerjasama produk dan fasilitas yang disediakan pihak hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya. Puluhan buyers dari travel agent domestic dan internasional yang hadir duduk di meja berhadapan dengan hotel atau restoran untuk selanjutnya melakukan penawaran. Melalui kerjasama ini diharapkan kunjungan wisatawan meningkat dan Bali umumnya tetap menjadi tujuan kunjungan wisatawan.

Pura Pusering Jagat berada di Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang tergolong pura yang sangat tua usianya dengan banyak peninggalan purbakala. Di Pura Pusering Jagat ini palinggih yang paling utama adalah Palinggih Ratu Pusering Jagat. Dalam lontar-lontar kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Penamaan itu akan mengingatkan masyarakat Hindu kepada cerita Adi Parwa yang mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirarnawa.

Di pura ini terdapat arca-arca yang menunjukkan bahwa pura ini adalah tempat pemujaan Siwa seperti arca Ganesha (putra Siwa), Durga (sakti Siwa), juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca berbentuk kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

 

 

 

Page 5 of 16
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.