Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla

Gianyar Culinari Exhibition saat acara The Fourth Asian Forum On The Right Of The Child di Desa Batuan dan Batuan Kaler, Jumat 25 Nopember menjadi ajang promosi Jaje (jajan) khas Bali. Pameran yang dilaksanakan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar, juga untuk memberdayakan pebisnis jaje Bali khususnya di pedesaan.

Jaje Bali yang ditawarkan meliputi klepon, laklak, bantal, jajan injin, pisang rai, godoh, jaje bendu, jaja lukis dan lainnya. Kebanyakan penganan khas Bali diambil dari resep turun-temurun dari pembuat jaje tradisional Bali. Jaje tersebut umumnya dihidangkan bersama kelapa parut dan kinca (gula merah cair). Beberapa diantaranya selain untuk pengannan juga untuk sarana persembahyangan. Semuannya mudah dibuat menggunakan bahan-bahan yang sederhana. Selain mudah rasanya juga lezat dan bercita rasa tinggi. Tidak heran beberapa diantaranya kerap tampil diatas meja prasmanan di restoran-restor atau hotel kelas atas.

Guna mempromosikan Gianyar sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya dengan mengedepankan kearifan lokal, Ubud Hotel Association mengadakan 3rd UHA Table Top yang diikuti oleh 30 buyers dari travel agent domestic dan internasional dari Singapura, Malaysia, Vietnam, India dan Australia di The Royal pitamaha, Convetion Hall Ubud pada Jumat, 25 Nopember 2016.

UHA Table Top yang berlangsung untuk keriga kalinya di Kabupaten Gianyar merupakan ajang promosi dan kerjasama produk dan fasilitas yang disediakan pihak hotel, restoran dan usaha pariwisata lainnya. Puluhan buyers dari travel agent domestic dan internasional yang hadir duduk di meja berhadapan dengan hotel atau restoran untuk selanjutnya melakukan penawaran. Melalui kerjasama ini diharapkan kunjungan wisatawan meningkat dan Bali umumnya tetap menjadi tujuan kunjungan wisatawan.

Pura Pusering Jagat berada di Desa Pejeng Kecamatan Tampaksiring, Gianyar yang tergolong pura yang sangat tua usianya dengan banyak peninggalan purbakala. Di Pura Pusering Jagat ini palinggih yang paling utama adalah Palinggih Ratu Pusering Jagat. Dalam lontar-lontar kuna, Pura Pusering Jagat juga dikenal sebagai Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan. Penamaan itu akan mengingatkan masyarakat Hindu kepada cerita Adi Parwa yang mengisahkan perjuangan para dewa dalam mencari tirtha amertha (air kehidupan) di tengah lautan Ksirarnawa.

Di pura ini terdapat arca-arca yang menunjukkan bahwa pura ini adalah tempat pemujaan Siwa seperti arca Ganesha (putra Siwa), Durga (sakti Siwa), juga arca-arca Bhairawa. Ada juga arca berbentuk kelamin laki-laki (purusa) dan perempuan (pradana). Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

 

 

 

Gunung Kawi Tampaksiring terletak di Banjar Penaka, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Candi Gunung Kawi merupakan situs arkeologi berupa candi yang dipahatkan pada dinding batu di tebing Sungai Pakerisan, yang sangat indah dan asri.

Menurut sejarah, pura Gunung Kawi Tampaksiring merupakan sthana/tempat pemujaan Raja Baliyang bernama Anak Wungsu, merupakan putra dari Raja Udayana. Diceritakan Raja Udayana dengan Permaisurinya gunapriya Dharmapatni mempunyai 3 orang putra yakni Airlanggasebagai putra sulung dan menjadi Raja Kediri di Jawa Timur, sedangkan Marakata dan Anak Wungsu meneruskan tahta Raja Udayana wafat digantikan oleh Marakata pada tahun 1025 M, kemudian Marakata digantikan adiknya yaitu Anak Wungsu (1049 Masehi) sampai tahun 1080M. Raja-raja ini setelah wafat distanakan di Candi Gunung Kawi Tampaksiring.

 

 

 

 

Pura Kebo Edan terletak di Br. Intaran, Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar yang dapat ditempuh kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Denpasar. Pura Kebo Edan dinilai dari aspek sejarah dimana nama pura dikaitkan dengan dua buah arca kerbau yang ada di pelataran pura, yang mana archa ini adalah simbol dari kendaraan / wahana Sang Hyang Siwa (salah satu Dewa Tri Murti yang berfungsi sebagai pelebur) yang dinamakan Nandini. Kebo ini kelihatan mau mengamuk dan marah ke arah archa Siwa Bhairawa, yang sedang melaksanakan ajaran Bhairawa dengan menempuh jalan Niwerti (memuaskan hawa nafsu) untuk mencapai tujuannya. 

 

 

 

Pura Mangening terletak di Banjar Sarasada, Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Candi ini adalah situs kuno, yaitu peninggalan pemerintahan Raja Marakata tahun 1022 Masehi. Untuk pertama kalinya, Pura Mangening ditemukan oleh WF Sutterheim di 1925 – 1927 tapi tidak disebutakan secara rinci, kemudian pada tahun 1960 Bernet Kempers menyatakan bahwa ada sebuah kuil dengan sisa-sisa bangunan diatas bukit kecil.

Berdasarkan laporan penggalian dan penelitian dilakukan, kemudian kuil dalam kondisi lengkap termasuk Lingga Yoni ditemukan, ditempatkan diruang kamar candi dianggap suci oleh orang lokal. Tempat ini dibangun di lembah sungai Pakerisan yang memiliki sumber daya air yang melimpah. Air yang ditampung dikolam dan mengalir melalui Sungai Pakerisan.

Tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi disamping melihat peninggalan raja-raja jaman dahulu, kita juga dapat melihat aliran sungai yang cukup indah. Air sungai ini difungsikan untuk mengairi sawah disekitarnya bahkan sampai ke daerah Pejeng dan Bedulu.

 

 

 

Obyek wisata Goa Gajah terletak di Banjar Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, berjarak kurang lebih 5 km dari Ubud. Obyek wisata Goa Gajah diketahui dari masa pemerintahan beberapa raja, antara lain : Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajastano Tunggadewa (1022 M), Raja Anak Wungsu (1053), Paduka Sri Mahaguru (1324).

Pada kitab Negarakertagama, yang dikarang oleh Mpu Prapanca pada jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk di era Majapahit menyebutkan Lwa Gajah terletak di Desa Bedulu sebagai tempat bersemayamnya Sang Bodadyaksa.

Juga disebutkan istilah Kunjarakunjapada yang berarti “asrama kunjara” dimana Kunjara dalam bahasa Sansekerta berarti Gajah. Asrama ini merupakan asrama Rsi Agastya yang berlokasi di Mysore di India Selatan dimana jaman itu memang banyak hidup gajah liar disekitar asrama itu. Dengan demikian Goa Gajah kemungkinan besar untuk mengingatkan akan asrama Kunjara yang ada di India.

Desa Wisata adalah  komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama sesuai ketrampilan dan kemampuan masing-masing memberdayakan potensi secara kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona sehingga tercapai peningkatan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah itu.

Desa Wisata merupakan kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat yang dalam aktivitas sosialnya berupaya untuk meningkatkan pemahaman kepariwisataan, mewadahi peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan di wilayahnya, meningkatkan nilai kepariwisataan serta memberdayakannya bagi kesejahteraan masyarakat, keikut sertaan dalam mensukseskan pembangunan kepariwisataan.

Ceking memiliki pemandangan yang indah dengan sawah bertingkat dan hijau serta udaranya yg begitu sejuk akan membuat wisatawan merasa nyaman. Objek wisata ini terletak di Kecamatan Tegallalang dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor sekitar 20 menit dari Ubud.

Objek wisata Ceking memiliki pemandangan yang unik dari sawah bertingkat untuk menghindari erosi. Udara dingin dan tiupan angin membuat wisatawan domestik dan mancanegara tertarik untuk mengunjungi Ceking. Dalam objek wisata ini, wisatawan akan dapat melihat petani Bali membajak dan mempertahankan sawah mereka di bukit miring lengkap dengan sistem irigasi yang terus mengalirkan air dari pegunungan.

 

 

 

Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana mengadakan seminar Pengembangan Potensi Daya Tarik Wisata Goa Garba di Stage Mandala Samuan Tiga, pada hari Selasa, 18 oktober 2016.  Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mensosialisasikan penyusunan masterplan Rencana Pengembangan Potensi Pariwisata. Acara seminar dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar Anak Agung Dalem Jagadhita, SH. Sedangan  sebagai moderator adalah DR. I Nyoman Sukma Arida,  M.Si  dengan  narasumber dari pihak akademisi dan BPCB Wilayah, Bali,  NTB, dan NTT.

Pengembangan cultural heritage tourism sangat diperlukan untuk mendukung  Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan sebagai salah satu warisan budaya dunia. Perhatian khusus sudah seharusnya  diberikan dalam hal kebijakan pembangunan kepariwisataan, terutama pada kawasan yang sudah menjadi warisan budaya dunia dan kawasan cagar budaya yang harus dilindungi dan diteruskan untuk generasi yang akan datang.

 

 

 

Page 3 of 14
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.