Leo Travel 2 - шаблон joomla Joomla

Setiap perayaan suci, umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta dengan semua manifestasi-Nya. Banyak cara yang bisa dilakukan, bisa dengan jalan kerja (karma). Ada pula dengan cara beryadnya (bhakti). Bagi para sedharma yang menekuni pengetahuan, maka bisa dilakukan dengan jnana. Sedangkan bagi yang menekuni dengan cara tapa, brata, yoga dan samadhi, maka cara itu adalah dengan melakukan yoga marga.

Jalan manapun yang ditempuh, pada akhirnya sampailah juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu tergantung ketulusan umat Hindu dalam memilih dan menempuh cara yang termulia. Manapun jalan itu, semuanya mulia. Tidak ada jalan atau cacat. Karena dasar untuk menuju-Nya adalah ketulusan, kesucian, keiklasan, serta kepercayaan/keyakinan. Tidak bisa seseorang melarang orang lain untuk memilih cara yang satu ini dan terbaik bagi dirinya, sedangkan bagi orang lain belum mampu melakukan dengan cara itu. Disinilah diperlukan pemahaman mengnai hakikat dari pada hari suci itu. Sekali lagi bahwa hari suci adalah hari terbaik bagi umat untuk mendekatkan diri dan menghubungkan diri dengan Sang Hyang pencipta. Oleh karena Sang Hyang Penciptalah yang paling berkuasa, baik secara sakala dan niskala.

Perayaan Galungan dan Kuningan misalnya, bahwa umat Hindu dalam melaksanakannya tentu selain dengan dasar kesucian, ketulusan, keiklasan, kepercayaan sebagaimana disebut di atas tadi, maka dalam implementasinya perayaan Galungan & Kuningan itu, tentu juga menyesuaikan dengan kondisi pribadi, kondisi banjar, kondisi desa, kondisi daerah, kondisi wilayah masing-masing. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan konsep desa, kala, patra. 

Inti artinya bagaimanapun terbatasnya fasilitas, sarana, kemampuan, keadaan ekonomi, bahwa aktivitas untuk memuliakan Tuhan Yang Maha Esa serta rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak batal. Rasa bhakti itu tetap yang utama. Melakukan bhakti itu yang diperoritaskan. Oleh karena jalan bhakti itulah menuntun umat Hindu menuju kemenangan dan kebenaran yang sejati, yakni dapat mencapai santa jagat hita, yaitu dapat mencapai sukerta, memperoleh rahayu, serta mendapatkan anugrah dirgha ayu dan dirgha janma manusa.

Kesan Galungan, bukanlah untuk berpesta pora. Juga bukan untuk berhura-hura. Jika itu terjadi, maka keliru dalam memaknai Galungan. Pada saat Galungan umat Hindu memiliki kewajiban untuk: a), melakukan kendali diri; b). melakukan penyucian diri; c), melakukan usaha kbajikan; d) melakukan kegiatan mulia (punya karma); e), melakukan amal kebajikan (dhana Punya); f), melakukan pemujaan dan pengastawa/berdoa terhadap Tuhan Yang Maha Esa; g), melakukan pengorbanan atau persembahan (yajna) yang tulus iklas; h) melakukan sirna krama atau menengok keluarga terdekat (dharma santih); i), melakukan pengampunan (ksamasvamam) terhadap sesama sahabat/keluarga (Pariparam) maupun terhadap semua kehidupan (sarvamprani/ sarva bhuta).

Jika hal-hal di atas bisa diaplikasikan, maka kesan hura-hura, kesan pesta pora, atau kesan mewah-mewahan bisa ditangkis. Karena pada saat Galungan, tujuan utamanya bukan itu. Juga segala perilaku-perilaku buruk (papa karma) sedapatnya harus dikendalikan. Tidak ada saat perayaan Galungan, bahwa umat lupa datang ke, merajan,sanggah, kamulan, taksu, kawitan, khayangan desa, khayangan jagat dan sejenisnya. Melakukan perjalanan suci (yatra) ke tempat-tempat sucilah yang dilakukan pada saat itu. Karena tempat itu adalah tempat suci. Tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada saat Galungan (Budha kliwon Dungulan) umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasi Beliau (Prabhwa Siva), Juga Bhatara-Bhatari, Deva-Devi serta pitara dan pitari yang suci. Karena Beliaulah yang menuntun kita sekalian. Beliau pula memberikan jalan dharma itu. Saat Galungan suguhan sesajen atau upakara sesuai yang telah ditentukan. Persembahan tumpeng, banten kurenan ,punjung, penyeneng, rayunan, gebogan, dan lainnya merupakan wujud rasa bhakti umat Hindu menuju kesempurnaan yang sejati.

Dengan pesatnya perkembangan kepariwisataan di Bali diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Keberadaan Desa Wisata di Bali dikembangkan agar dapat mensejahterakan masyarakat di desa sehingga hasil dari kepariwisataan dapat dinikmati oleh segenap unsur masyarakat. Menyikapi hal tersebut Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar berupaya untuk membangun peran serta masyarakat di Desa untuk lebih terlibat langsung membangun potensi di Desa mereka masing-masing.

Objek wisata Monkey Forest yang juga disebut sebagai Mandala Wisata Wanara Wana merupakan kawasan yang sangat disakralkan oleh masyarakat Desa Adat Padangtegal. Bahkan, objek wisata ini tak dapat dipisahkan dari Desa Pakraman Padangtegal. Alasan ini muncul dengan adanya hubungan emosional, dimana kawasan objek tersebut merupakan tempat Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Padangtegal yakni Pura Dalem Agung.

The Sacred Monkey Forest Sanctuary (Monkey Forest Ubud) mempunyai misi melestarikan daerah berdasarkan konsep Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana adalah merupakan filsafat dalam ajaran agama Hindu. Substansi ajaran Tri Hita Karana adalah bagaimana membuat orang menjaga hubungan yang harmonis dalam kehidupan ini. Ketiga hubungan terdiri dari hubungan yang harmonis antara manusia dan manusia, manusia dan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan.

Pelaksanaan Tri Hita Karana, selain ritual dilakukan di tempat suci dapat dilihat dalam kegiatan ritual khusus yang berkaitan dengan hewan yang biasanya dilaksanakan pada Tumpek Kandang dan Tumpek Uduh, di mana hewan dan tumbuhan adalah subjek dari ritual.

Berdasarkan konsep Tri Hita Karana, The Sacred Monkey Forest Sanctuary (Monkey Forest Ubud) akan menjadi unggulan dari tujuan wisata internasional untuk menciptakan perdamaian dan harmoni kepada para pengunjung. Serta dapat menjadi jantung kota, konservasi tanaman langka dan tanaman untuk tujuan ritual dan sebagai laboratorium alam bagi lembaga pendidikan.

Kepala Bidang Penyuluhan Pariwisata A.A. Istri Dwi Hari Hidayati menjadi narasumber dengan materi Pengenalan Saka Pariwisata pada acara Raimuna Cabang Gianyar 2016 yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Desa Lodtunduh Ubud pada hari Jumat, 26 Agustus 2016.

berikut sekilas beberapa informasi mengenai Saka Pariwisata :

Penegertian Saka Pariwisata.

Satuan Karya Pramuka Pariwisata Adalah salah satu Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah Pendidikan di bidang Kepariwisataan bagi anggota Pramuka agar mereka dapat membantu, membina dan mengembangkan kegiatan  :

  1. Penyelenggaraan kepariwisataan yang berkelanjutan 
  2. Pengelolaan perjalanan wisata/ pemanduan wisata,
  3. Pemberdayaan masyarakat dalam rangka perwujudan sadar wisata dan aksi Sapta Pesona di sekitar destinasi pariwisata sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat bangsa dan Negara.

Salah satu obyek wisata alam yang ada di Kabupaten Gianyar adalah obyek wisata air terjun Tegenungan. Air terjun Tegenungan berada di Banjar Tegenungan, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati yang jaraknya sekitar 16 km dari Kota Denpasar.

Di sekitar obyek wisata air terjun Tegenungan memiliki pemandangan yang sangat indah dengan pepohonan yang menghijau. Untuk mencapai di air terjun yang tingginya kurang lebih 40 meter itu, dari tempat parkir pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang sudah tertata dengan baik. Anda juga harus menyusuri tepian Tukad (sungai) Petanu untuk melihat air terjun dari jarak yang lebih dekat.

Kecak adalah jenis tari Bali yang paling unik. Kecak tidak diiringi dengan alat musik/gamelan apapun tetapi diiringi dengan paduan suara sekitar puluhan orang pria. Kecak berasal dari jenis tari Sakral “Sang Hyang”. Pada tari Sanghyang seseorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para Dewa atau Leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Epos Ramayana ke dalam tari tersebut. Secara singkat ceritanya adalah sebagai berikut :

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar Anak Agung Dalem Jagadhita, SH meresmikan pameran Seni Rupa Amarawati Art Community pada Jumat, 19 Agustus 2016 di Bentara Budaya Bali. Pameran akan berlangsung dari tanggal 20 s/d 29 Agustus 2016 mulai pukul 10.00 – 18.00 Wita serta akan mengadakan diskusi dan workshop seni rupa pada Minggu, 28 Agustus 2016 mulai pukul 15.00 Wita. Sejumlah perupa yang tergabung dalam Amarawati Art Community (Komunitas Perupa Tampaksiring) menggelar pameran bersama dalam bingkai tajuk “Peradaban Air Pakerisan Petanu”. Mendalami tematik tersebut, para seniman dengan kecenderungan stilistik dan karakteristik visual tersendiri, berupaya menginterpretasi peran sentral “Air” dalam peradaban Bali, khususnya di Tampaksiring.

Wisatawan pada umumnya sangat sensitive terhadap keberadaan sampah plastik karena sulit diurai dan sangat merusak lingkungan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan efek negative bagi lingkungan dan perkembangan pariwisata sehingga hal ini harus mendapat perhatian yang serius dari masyarakat dan Pemerintah. Keberadaan Bank-Bank sampah di pelosok Desa diharapkan dapat membantu dalam memecahkan solusi sampah dan juga dapat memberikan efek positif bagi masyarakat.

Pertunjukantari Barong dan Keris banyak dipentaskan di beberapa tempat di Desa Batubulan Sukawati setiap hari dari jam 09.30 s/d 10.30 Wita. Tari Barong adalah tarian khas Bali yang menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya. Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Macan, Barong Brutuk, serta Barong-barongan. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap. Keistimewaan Tari Barong terletak pada unsur-unsur komedi dan unsur-unsur mitologis yang membentuk seni pertunjukan. Unsur-unsur komedi biasanya diselipkan di tengah-tengah pertunjukan untuk memancing tawa penonton. Pada babak pembukaan, misalnya, tokoh kera yang mendampingi Barong membuat gerakan-gerakan lucu atau menggigit telinga lawan mainnya untuk mengundang tawa penonton.

Sementara itu, unsur mitologis terletak pada sumber cerita yang berasal dari tradisi pra-Hindu yang meyakini Barong sebagai hewan mitologis yang menjadi pelindung kebaikan. Unsur mitologis juga nampak dalam pembuatan kostum Barong yang bahan dasarnya diperoleh dari kayu di tempat-tempat yang dianggap angker, misalnya kuburan. Unsur mitologis inilah yang membuat Barong disakralkan oleh masyarakat Bali. Selain itu, Tari Barong juga seringkali diselingi dengan Tari Keris (Keris Dance), di mana para penarinya menusukkan keris ke tubuh masing-masing.

Berikut sekilas tentang pertunjukan tari Barong dan Keris dengan beberapa adegan tari yang dibagi menjadi 5 babak.

Gianyar terkenal sebagai pariwisata budaya serta bentang alamnya yang indah. Melalui seni dan budaya banyak tempat-tempat di Kabupaten Gianyar yang menyajikan pagelaran untuk menarik minat wisatawan baik asing maupun lokal. Salah satunya yang dilakukan oleh Komunitas Budaya Yasa Putra Sedana yang beralamat di Banjar Pengaji, Payangan. 

Page 5 of 14
In legends, Legong is the heavenly dance of divine nymphs. Of all classical Balinese dances, it...
What makes the Kecak special is that the accompanying music is provided by the human voice, the...
Sidakarya mask is part of the mask dance performances that accompanied the ceremony in Bali...
Barong is probably the most well known dance. It is also another story telling dance, narrating...

Photo Tour

photo_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tourphoto_tour

Contact us

 Gianyar Government Tourism Office

Jln. Ngurah Rai, Gianyar - Bali - Indonesia (0361) 943554 This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.