Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali
This Temple cannot be separated with the spiritual trip of a sages namely Rsi Markandeya (around 9 Century BC) who had a trip from Taro village to Agung mountain accompanied by his 400 followerss. Rsi Markadeya went through a very long journey with a hot weather, it is made his followers felt tired. Then, he and his followers desided to take a rest in this place and found this place was peaceful. He took the time to make some carvings and appealed to the Sang Hyang Giri Pati (God Sivha) and the Sang Hyang Ari Murti (Gos Vishnu) asking for Tirta Amerta (the elixir of immortality) to quench his followers”thirst and also to cure them who felt tired.
During the worship, there was a spring of fresh water emerged in the middle of Apngkung Dawa, which was named Tirta Dawa Gunung Kawi, meanwhile the name of Gunung Kawi was derived from word “ukir-ukiran” (carvings) which were made in the worship place which is symbolized mountains.
When Rsi Markandeya was diligently carrying out his worship, there was also another spring emerged from the land which was name Tirta Empul. Tirta Empul well known as a spring which comes from some water springs and in accordance to Hindu belief and Balinese culture this spring water can be used for self purification and healing many kinds of diseases here means to purify ourselves from negativity found both in our soul and body.
This temple also cannot be separated with Tirta Empul temple and Mengening Temple which are located in Tampaksiring, which also has a very large water spring. Water for Hindu religious belief has important significance ; water as the source of spiritual power, the source of life, the source of prosperity. This spirng water irrigates around 100 heactares rice fields consists of 3 subaks (Balinese traditional system). Those are Subak Delod Belumbbang, Subak Cebok and Subak Tengah Padang which are located in Tegalalang sub-district.
__________
Pura ini tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan rohani dari orang bijak yaitu Rsi Markandeya (sekitar abad ke-9 SM) yang memiliki perjalanan dari desa Taro ke gunung Agung didampingi 400 pengikutnya. Rsi Markadeya pergi melalui perjalanan yang sangat panjang dengan cuaca panas, itu membuat pengikutnya merasa lelah. Kemudian, beliau dan para pengikutnya memutuskan beristirahat di lembah Pangkung Dawa. Disini beliau menemukan tempat yang damai serta sempat membuat beberapa ukiran pada candi untuk memuliakan manifestasi Sang Hyang Giri Pati (Dewa Siwa) dan Sang Hyang Ari Murti (Manifestasi Dewa Wisnu) untuk memohon Tirta Amerta (yang dipercaya sebagai air suci mujarab untuk keselamatan) serta untuk menghilangkan rasa dahaga para pengikutnya dan juga untuk mengembalikan kesegaran tubuh beliau beserta para pengikutnya.
Selama pemujaan munculah mata air suci ditengah-tengah Pangkung Dawa, yang diberi nama Tirta Dawa Gunung Kawi, sementara nama Gunung Kawi berasal dari kata “ukir-ukiran” (ukiran) yang dibuat di tempat ibadah yang dilambangkan pegunungan.
Ketika Rsi Markandeya itu rajin melaksanakan pemujaannya, ada juga mata air lain muncul dari tanah yang diberi nama Tirta Empul. Tirta Empul terkenal sebagai air yang berasal dari beberapa sumber mata air dan sesuai dengan kepercayaan Hindu dan budaya Bali mata air ini dapat digunakan untuk pemurnian diri dan penyembuhan berbagai jenis penyakit. Pemurnian diri di sini berarti untuk memurnikan diri dari perbuatan negatif yang ditemukan baik dalam jiwa maupun tubuh kita.
Pura ini juga tidak dapat dipisahkan dengan Pura Tirta Empul dan Pura Mengening yang terletak di Tampaksiring dan juga memiliki mata air yang sangat besar. Air untuk keyakinan agama Hindu memiliki makna penting, air sebagai sumber kekuatan spiritual, sumber kehidupan, sumber kemakmuran. Mata air ini mengairi sekitar 100 hektar sawah padi yang terdiri dari 3 subak (sistem tradisional Bali). Subak itu diantaranya adalah Subak Delod Belumbang, Subak Cebok dan Subak Tengah Padang yang terletak di Kecamatan Tegallalang.
Desa Sebatu dan anggota subak (sekitar 200 keluarga) bertanggung jawab untuk melakukan upacara dan mengambil hak peduli Pura Gunung Kawi Sebatu. Upacara Pura dilakukan pada Purnamaning Sasih Kasa (sekali setahun atau setiap bulan Juli). Pura ini didedikasikan untuk Dewa Wisnu sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang memiliki fungsi kosmik pemeliharaan dalam kepercayaan Hindu, selain itu Pura ini juga didedikasikan untuk Dewi Gangga.
gianyarkab.go.id
jegegbagusgianyar.or.id